Pages

Ads 468x60px

Thursday, January 12, 2012

Mengkritik Para Si Pengkritik


Era kebebasan berbicara dan berpendapat di Indonesia sudah memasuki masa keemasan, bahkan mungkin sudah melewati batas kewajaran. Itulah tren yang terjadi saat ini. Setiap orang bebas berpendapat, bahkan menghina seorang simbol negara adalah hal yang biasa di negeri ini. Inilah mungkin yang disebut dengan era kebebasan yang kebablasan.

Secara umum saya perhatikan, ada 3 jenis pengkritik di negeri ini, berdasarkan domainnya. Yang pertama adalah pengkritik yang berasal dari kaum budayawan atau seniman. Yang kedua adalah para pengkritik yang berasal dari kaum profesional dengan domain keilmuan tertentu, yang ketiga adalah masyarakat biasa yang hanya sekedar ikut-ikutan.

Mari kita bahas jenis yang pertama dulu. Di Indonesia sekarang sudah bermunculan golongan yang diklaim sebagai budayawan. Mereka ini biasanya dikenal dengan kebersahajaannya dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Mereka ini kerap menggunakan media yang dekat dengan kehidupan masyarakat bawah sebagai alat untuk mengkritik pemerintah, misalnya melalui acara pagelaran wayang atau format acara lawakan di televisi.

Saya memandang mereka ini tidak lebih dari sebagai badut masyarakat. Kelemahan mereka paling utama adalah mereka tidak paham konteks dan teknis dari apa yang sering mereka kritik. Bagaimana mungkin seorang dalang atau pelawak mampu mengklaim bahwa pengucuran dana bailout terhadap Century adalah merupakan skandal yang merugikan masyarakat? Sementara dia bukan orang yang memahami tentang mekanisme perekonomian suatu negara berputar, dan tentang bisnis perbankan secara khusus. Yang mereka gunakan hanya common sense. What the hell! Ini tahun 2012, mari berbicara dengan fakta ilmiah dan terukur, bukan sekedar berargumen tanpa landasan yang kuat.

Kritikus yang kedua adalah orang yang paham dengan teknis, mungkin mereka adalah kaum-kaum intelektual. Ya mereka memang berbeda dengan yang jenis pertama tadi, sayangnya tidak lebih baik. Standar moral atau etika yang mereka miliki biasanya sangat rendah. Mungkin karena otak mereka sudah diracuni dunia, standar etika profesi mereka hanya ada diatas kertas. Jadi mereka hanya berupaya mengkritik kesana-kemari tanpa pernah mengapresiasi apa yang baik. Dan biasanya setiap tindakan mereka memiliki suatu motif.

Yang ketiga itu adalah kebanyakan masyarakat biasa, mereka sangat gampang digiring untuk mengambil sudut pandang dari view tertentu. Disinilah media banyak memanfaatkan golongan seperti ini. Istilahnya ini adalah pasukan bodrex. Mungkin mayoritas masyarakat kita ada di golongan ini.

Inilah sumber carut marut di Indonesia saat ini. Saya sebut itu dengan kombinasi dari pemerintahan yang korup, politisi yang busuk, media yang tidak independen, dan kualitas masyarakat yang masih rendah.

Tiba-tiba saya kepikiran lagi untuk memunculkan jenis kritikus yang keempat. Siapa itu? Mereka adalah pengkritik yang mengkritik para si pengkritik itu tadi, seperti saya ini.hahaha. Biasanya mereka itu adalah orang biasa yang tidak terafiliasi dengan pihak manapun, dan tidak punya ambisi atau motivasi apa-apa. Mungkin mereka hanya suka mengamati, memikirkan, dan terkadang menulisnya kalau sedang tidak malas. Kalau mereka sedang malas menulis, mungkin pengamatan dan pemikirannya itu akan menguap begitu saja.

Kelemahan dari orang seperti ini adalah semua pemikirannya hanya sebatas sampai di ide saja, tidak akan berdampak apa-apa terhadap kehidupan masyarakat. Karena memang mereka bukan siapa-siapa, mereka bukan orang yang bisa mempengaruhi kehidupan sosial. :D

3 comments:

Hersanto's life said...

izin share mas, tulisan bagus mengingatkan kepada diri saya pribadi

adolphification said...

izin share mas...

Arman Boy said...

Hersanto & Adolph: Silahkan, semoga berguna menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Terimakasih. :D