Saturday, May 18, 2013

Bubble!



Ada anomali yang sangat terasa. Perekonomian global dan domestik sudah memberikan sinyal perlambatan. Ancaman inflasi sudah menunggu. Kondisi politik sudah memanas. Defisit neraca perdagangan melebar. Namun pasar saham tak kunjung memberikan sinyal pembalikan arah. IHSG terus menciptakan rekor level tertinggi baru. Semua saham diburu oleh investor yang kelaparan. Beli saham apa saja pasti untung.
Global (Amerika, Eropa, dan Jepang) menjalankan quantitative easing “printing money” policy pasca krisis 2007. Ini adalah solusi instan mengatasi krisis. Kebijakan suku bunga acuan mendekati 0% tidak efektif lagi. Akibatnya dunia menghadapi over-liquidity. Kemana lagi larinya kalau bukan ke pasar saham yang menjanjikan return instan. Pasar saham akan menyerap uang sebanyak apa pun.
Dana mengalir ke negara berkembang, Yield obligasi pemerintah menurun, konsumsi meningkat, bisnis semakin mudah mendapatkan pendanaan, harga aset keuangan meningkat. Semuanya adalah konsekuensi dari ease monetary policy.
Tampaknya market lebih digerakkan oleh sentimen. Fundamental dan argumen hanya digunakan untuk mendukung sentimen itu. Semua meneriakkan: “Buy! buy! buy!”. Tak peduli seberapa sampah aset itu.
Siapa yang menciptakan sentimen? Mereka adalah opinion maker. Ada ekonom, banker, fund manager, analis, media, dan pembuat kebijakan. Mereka yang membentuk konsensus. Mereka yang membentuk suara publik. Sayangnya kebanyakan mereka memiliki kepentingan.
Selebihnya adalah Tim Hore, Pasukan Bodrex, dan Pom-pom Boys.
Lihat dengan shale gas yang sudah mulai booming. Batubara dan Minyak Bumi yang dulu dipuja-puja, dalam sekejab dimaki bagai tak ada harga.
Siapa yang memulai semua ini? Mungkin mereka yang sudah melakukan investasi duluan. Argumen justifikasi yang sangat logis, gas lebih ramah lingkungan dibanding batubara, dalam sekejab berhamburan di media.
Reputasi mereka yang berbicara memang sangat baik. Mereka layak dipercaya.
Tapi tunggu dulu. Bukankah analis meneriakkan buy sebelum Enron bangkrut? Bukankan media dan peramal selalu menulis prospek cerah sektor teknologi sebelum era kehancuran saham teknologi? Bukankah produk Lehman Brothers mendapatkan rating AAA sebelum bangkrut?
"Dalam beberapa bulan ke depan saya melihat pasar saham jauh lebih tinggi daripada hari ini." Demikian kata-kata yang diucapkan oleh Irving Fisher, Profesor Ekonomi di Universitas Yale, peraih pertama nobel ekonomi, tepat 14 hari sebelum Wall Street hancur pada Black Tuesday , 29 Oktober, 1929.
Tragis, dia kehilangan 140 juta (dalam dolar setara hari ini) dalam kehancuran pasar saham itu. Fisher adalah manusia jenius, seorang ekonom besar, seorang teoritikus yang sangat baik, salah satu pendiri ekonometrik, dan pelopor dalam analisis angka indeks. Dia juga penemu dari sistem file indeks KARDEX, yang dijual ke Remington Rand senilai jutaan dolar.
John Maynard Keynes, ekonom Inggris yang paling terkenal, yang sebelumnya mengumpulkan kekayaan di pasar keuangan untuk dirinya dan Cambridge University, kehilangan 156 juta (dalam pound saat ini) dalam kejadian itu.
Ketika euforia optimisme berganti menjadi pesimisme, hutang yang sebelumnya dijustifikasi optimisme, akan berbalik arah dianggap berbahaya. Kreditor yang awalnya optimis, berubah menjadi panik, kemudian melakukan penyitaan paksa. Semua akan beramai-ramai mengajukan kebangkrutan. Ini adalah cerita klasik dari krisis yang berawal dari keserakahan.
Cerita bubble bukan hal baru di dunia ini: mulai dari The Dutch Tulip Mania 1637, The British South Sea 1922, The Dot-Com Boom 2000, hingga The Subprime Mortgage 2007. Dan semuanya berinti tentang keserakahan manusia.
Oh mengapa memori kita sangat pendek?
Tapi kita harus konsisten. Kita harus siap menghadapi konsekuensi apa yang kita anut. Ini adalah kapitalisme. Res tantum valet quantum vendi potest. Sesuatu hanya berharga ketika seseorang mau membayar untuk itu. Upil juga berharga kalau ada yang mau beli.
Kapitalisme “invisible hand” akan siap menghukum setiap kesalahan pelaku. Tak peduli siapa dia. Masalahnya, yang dihukum bukan hanya pelaku, bukan pula hanya hingga penonton, awam pun akan ikut dihukum.
Ekonomi memang terkadang sangat misterius. Banyak fenomena yang tidak bisa dijelaskan.
Tidak sulit untuk mendapatkan keuntungan dari pasar saham. Tapi yang sulit adalah mencukupkan diri. Manusia selalu ingin cepat kaya dengan cara yang mudah. Itulah yang selalu menjadi sumber setiap cerita pilu.
Ada joke klasik dalam pasar saham: Ketika ibu rumah tangga dan anak yang tidak memiliki penghasilan sudah ikut bermain saham, itulah tanda-tanda pasar saham akan hancur.
Pasar saham memang selalu menyisakan teka-teki. Dan kita akan terus melakukan rasionalisasi dan justifikasi dalam setiap kejadian.
Mereka bilang sejarah akan selalu berulang dengan sendirinya. Hanya nama, wajah, dan waktunya saja yang berbeda. Dan cerita ini akan terus berlanjut sepanjang manusia tidak mau belajar dari sejarah.

Sebagai penutup, ada kutipan menarik dari film Wall Street: Money Never Sleeps.
POOR MAN: I'd like a mortgage... I don't really have any money though... is that cool? BANKER MAN: Totally cool. Since housing prices are always going up it won't be a problem.
POOR MAN: You guys are awesome!
GORDON GECKO: You wanna know what the mother of all bubbles was? Us. The human race.

Tuesday, May 14, 2013

Skandal Bloomberg Terminal dan Insider Information


Skandal penyalahgunaan informasi Bloomberg Terminal menyeruak beberapa hari ini. Isu ini tidaklah main-main sebab layanan ini digunakan oleh raksasa-raksasa keuangan dunia. Bahkan Gubernur Bank Sentral US (The Fed) Ben Bernanke menjadi sasaran penyusupan melalui Bloomberg Terminal. Siaran berita keuangan CNBC terus memanfaatkan isu ini untuk menjatuhkan reputasi Bloomberg. Wajar saja mengingat mereka merupakan kompetitor satu sama lain di divisi media televisi. Skandal ini juga memicu disorotnya kembali isu privasi terhadap informasi-informasi rahasia bisnis.
Skandal ini bermula dari Goldman Sachs yang mengajukan protes kepada Bloomberg. Goldman menuding jurnalis Bloomberg  memata-matai karyawan Goldman dengan menggunakan terminal Bloomberg  yang mereka gunakan.
Pada bulan lalu, seorang reporter Bloomberg Hongkong menghubungi Goldman Sachs dan menanyakan mengapa salah seorang eksekutif tidak pernah menggunakan mesin Bloombergnya dalam waktu yang cukup lama. Ini akhirnya menimbulkan kecurigaan bahwa ternyata reporter Bloomberg memata-matai aktifitas eksekutif di Goldman Sachs tersebut.
Yang menjadi masalah adalah reporter Bloomberg memanfaatkan akses informasi rahasia melalui terminal tersebut untuk bahan informasi ke media. Padahal sebenarnya layanan Bloomberg Terminal ini adalah divisi yang berbeda dengan divisi media (televisi dan majalah). Bagaimana mungkin seorang wartawan televisi Bloomberg memiliki akses terhadap pengguna layanan Bloomberg Terminal?
Bagi anda yang awam, Bloomberg Terminal adalah seperangkat komputer yang menyediakan data informasi keuangan secara realtime yang tersambung dengan seluruh belahan bumi melalui platform elektronik. Sistem perintah, monitor, dan keyboard yang digunakan perangkat ini juga berbeda dengan komputer umumnya. Oleh sebab itu seseorang biasanya membutuhkan training untuk bisa mengoperasikan.
Perusahaan ini didirikan dan 88% sahamnya dimiliki oleh Michael Bloomberg yang saat ini merupakan Walikota New York. Michael dulunya adalah seorang investment banker di Salomon Brothers dan saat ini tercatat sebagai orang terkaya nomor 7 di Amerika Serikat.
Pemain terminal informasi ini hanya ada dua di dunia saat ini, yaitu Bloomberg dan Reuters.
Layanan yang satu ini sangat mahal harganya. Perusahaan menghabiskan dana miliaran rupiah per tahun untuk mendapatkan layanan lengkap dengan seperangkat komputer yang dipinjamkan. Seingat saya layanan paling minimalnya harus membayar biaya subscription sekitar Rp 150 juta dan biaya langganan bulanan sekitar Rp 15 juta per user account untuk paket yang paling basic.
Peralatan yang satu ini memang sangat canggih dan menawarkan banyak kemudahan. Dengan sekali klik, kita bisa mendapatkan informasi keuangan dari New York, London, Frankfurt, Zurich, Hongkong, Tokyo, atau Singapura. Bahkan dari Jakarta kita bisa berkomunikasi dengan  seorang analis di Wallstreet dengan memanfaatkan alat ini. Borderless world!
Saya ingat sekitar 3 tahun lalu saat masih bekerja di level junior analis, setiap pagi sebelum pasar dibuka, saya bekerja dengan perangkat ini untuk melakukan update data keuangan dunia dan mengimpor ke dokumen excel untuk kemudian dilampirkan dalam research report yang didistribusikan kepada nasabah institusi dan ritel.
Bloomberg terminal mungkin adalah sesuatu yang wajib untuk profesional keuangan. Bank Sentral, otoritas pasar modal, perusahaan sekuritas, investment banking, bank komersial, asuransi, dan fund manager menggunakan platform ini. Saat ini ada lebih dari 315 ribu pelanggan di seluruh dunia.
Bank Sentral dan otoritas pasar modal menggunakan layanan ini untuk memantau informasi keuangan dunia. Divisi treasury di bank menggunakan layanan ini untuk mengatur transaksi atau lindung nilai (hedging) yang berhubungan dengan currency atau foreign exchange. Perusahaan asuransi dan fund manager menggunakan layanan ini untuk memantau portofolio mereka yang tersebar di seluruh dunia.

Insider information

Isu privacy pun kembali menjadi sorotan saat ini. Pun saya dari dulu sudah sering memikirkan betapa banyaknya celah untuk mendapatkan informasi rahasia perusahaan, salah satunya melalui mesin Bloomberg ini.
Di era sekarang ini dimana informasi kebanyakan berbasis teknologi, dipastikan dokumen ada dalam bentuk digital. Setiap dokumen digital pasti akan meninggakan jejak. Inilah yang rentan untuk dibajak atau disusupi. Mungkin tidak perlu seorang hacker sejenius Julian Assange Wikileaks untuk menembus data ini. Cukup seorang anak muda yang tekun, sabar, menguasai bahasa pemrograman, dan sanggup duduk di depan komputer berhari-hari.
Dan kebanyakan eksekutif tidak sadar bahwa data yang mereka pegang sangat sensitif dan rentan untuk dicuri. Akibatnya mereka tidak terlalu memperhatikan permasalahan security. Saya saksikan sendiri terkadang beberapa data sensitif tidak diproteksi dengan aman dan dengan mudah bisa saya ambil untuk disalahgunakan.
Berhungan dengan insider information, cara dengan menyusup melalui jaringan IT mungkin adalah yang relatif lebih sederhana dan mudah, walaupun mungkin beresiko. Sementara yang terjadi selama ini, perusahaan lebih banyak memanfaatkan jasa economic/industrial/corporate espionage yang sangat mahal. Layanan spionase intelijen bisnis pihak ketiga ini biasanya memanfaatkan karyawan atau orang dalam. Bisa jadi orang dalam tersebut disuap, atau bisa jadi juga tidak sadar bahwa dia banyak membocorkan informasi rahasia melalui obrolan-obrolan.
Kompetitor adalah salah satu pihak yang rentan mencuri informasi. Berbagai cara akan digunakan untuk mendapatkan informasi pihak lain.
Ini memang adalah wilayah yang abu-abu dan sering mengundang kritik karena tidak etis. Tetapi itu adalah praktek dalam dunia nyata. Informasi itu memang sangat mahal harganya. Siapa yang menguasai informasi, dia akan menjadi pemenang. Semoga kejadian ini bisa menyadarkan kita akan pentingnya privasi untuk data-data sensitif.