Pages

Ads 468x60px

Friday, March 21, 2014

Politik dan Pemburu Rente: Friends in High Places

Dua tahun lalu saya ikut menyusun in-depth report dan investigasi ketika membuat profiling terhadap 20 orang terkaya Indonesia versi Majalah Forbes. Yang menarik perhatian saat itu adalah ternyata sangat susah ditemukan diantara 20 nama itu yang tidak memiliki koneksi politik level atas. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa tidak ada diantara 20 nama itu yang tidak terkoneksi ke politik.
Tidak terlalu mengejutkan pula bila majalah The Economist edisi 15 Maret 2014 menempatkan Indonesia di peringkat sepuluh dalam the crony-capitalism index.
Era booming ekonomi Indonesia memang tampaknya hanya dinikmati segelintir orang. Pada masa Orde Baru sudah kita tahu bersama bahwa mayoritas sektor usaha dimonopoli oleh pengusaha yang dekat dengan rezim. Sejak menjadi diktator Indonesia tahun 1960-an, Soeharto berhasil mentransfer harta kekayaan negara ke dalam lingkaran kekuasaan.
George Aditjondro yang mengabdikan hidupnya menelisik kekuasaan oligarki Orde Baru, memperkirakan jumlah kekayaan Soeharto (Ia menyebut dengan istilah Suharto Inc.) mencapai USD 25 miliar, jauh lebih besar dari perkiraan majalah Forbes dan TIME.
Pada era berikutnya, sesudah kekuasaan Soeharto tumbang, keadaan tidak jauh berbeda. Aset sitaan BLBI banyak jatuh dengan harga diskon kepada para pengusaha yang memiliki koneksi politik.
Mungkin hal itu juga belum banyak berubah pada kekuasaan SBY sepuluh tahun terakhir. Insider businessman tetap tampil menguasai Sumber Daya Alam. Dan mayoritas orang-orang itu adalah masih peninggalan era Soeharto, tetapi dengan wajah yang berbeda sebagai boneka depan. Sebut saja misalnya Keluarga Salim, Soeryadjaya, Riady, Nursalim, dan Bakrie.
Sektor bisnis yang paling rawan menjadi lokasi suburnya aksi kroni menurut majalah The Economist juga relatif sama dengan yang terjadi di Indonesia. Sektor-sektor yang seharusnya milik publik dan dikuasai negara menjadi tempat berkembangnya praktek ini. Pertambangan adalah yang paling kasat mata di Indonesia. Nyaris tak ada pengusaha tambang yang tidak memiliki koneksi politik.
Cara paling mudah untuk melihat koneksi suatu perusahaan ke politik adalah melihat jajaran komisaris yang duduk di perusahaan. Banyak perusahaan besar yang mengelola resiko dengan menempatkan orang kuat yang memiliki koneksi ke politik sebagai Komisaris pemakan gaji buta.
Menyedihkan memang 16 tahun sesudah Reformasi, negara ini masih dipenuhi dengan pembuat kebijakan yang korup dan pebisnis pencari rente yang sedang mengumpulkan kekayaan.
Konsekuensi pemburu rente
Praktek kongkalikong pengusaha dengan politik ini adalah sangat tidak fair dan akan merusak mekanisme pasar. Keseimbangan jangka panjang yang terbentuk tidak mencerminkan equilibrium ekonomi yang sebenarnya. Kompetisi hanya akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki koneksi baik. Akibatnya yang dirugikan adalah konsumen yang akan dibebankan harga tidak wajar. Daya saing akan menjadi rendah di pasar global.
Sebab itu, jangan heran jika anda harus membayar Rp 600 juta untuk sepetak rumah tipe 36 di daerah komuter Jakarta. Ini tak lepas dari aksi para pemburu rente di bidang penguasaan lahan.
Mancur Olson telah melakukan penelusuran historis konsekuensi dari perbuatan pemburu rente ini dalam buku The Rise and Decline of Nations. Dia berargumen semakin suatu negara didominasi oleh kelompok-kelompok dengan kepentingan yang terorganisir, negara itu akan semakin kehilangan kekuatan ekonomi dan sedang menuju penurunan .
Ekonom dari Columbia University Joseph Stiglitz berpendapat bahwa pemburu rente adalah kontributor besar dalam ketimpangan pendapatan di Amerika Serikat. Mereka mengumpulkan kekayaan haram melalui lobi-lobi terhadap kebijakan pemerintah. Tak heran bila kekayaan hanya terkonsentrasi pada sekelompok orang atau golongan.
Namun di satu sisi, berbisnis itu memang susah dan penuh dengan resiko ketidakpastian. Akan sangat besar resiko yang ditanggung pengusaha ketika tidak memiliki koneksi politik. Intervensi terhadap kebijakan kadang dibutuhkan melalui koneksi yang dimiliki itu. Tentunya akan ada penyuapan yang bermain di sana.
Dari sisi rasionalitas bisnis, tindakan para pebisnis ini memang sangat masuk akal. Saya contohkan misalnya daripada membayar pajak Rp 500 miliar, lebih baik menyuap petugas pajak sebesar Rp 50 miliar.
Mungkin ini adalah praktek yang lumrah dalam bisnis, bukan hanya di Indonesia. Tapi itu tidaklah layak untuk dijadikan alasan pembenaran.
Sampai sekarang saya juga masih berpikiran bahwa memang mungkin mustahil memiliki perusahaan besar jika tidak memiliki koneksi politik. Bahkan saya sering berspekulasi bahwa tidak akan ada cara untuk kaya dengan jujur. Semoga saja saya salah dengan pengalaman yang masih terbatas ini.


Dipublikasikan pada Harian Kontan dan Kontan Online, 28 Maret 2014.


Sunday, March 16, 2014

Jokowi Effect : A Drug on the Market


Kontan, 17 Maret 2014

Jokowi berhasil mengubah mood pasar saham Jakarta hanya dalam hitungan jam. Running trade yang penuh dengan warna merah tiba-tiba mendadak hijau. Indeks yang sempat berkubang di zona merah hingga minus 1% di sesi pagi 14 Maret 2014, berhasil berbalik arah melonjak begitu kabar deklarasi Jokowi sebagai calon presiden menyebar di pasar. Indikator pasar saham Jakarta sukses melompat hingga 3,2% di sesi penutupan sore. Dan kejadian itu terjadi di tengah gempuran sentimen negatif dari Ukraina. IHSG berhasil melawan arus pelemahan dalam pasar global dan regional. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah sebagai indikator sovereign risk juga langsung turun 10 basis poin.

Sepanjang pengalaman saya menggeluti pasar modal, hanya ada dua tokoh besar di Indonesia yang mampu menggerakkan pasar saham sangat signifikan. Salah satu tokoh lain yang muncul di kepala saya adalah Sri Mulyani. Saya ingat pada Mei 2010, pasar saham terjun bebas hingga minus 3,81% ketika beliau mengumumkan pengunduran diri dari posisi Menteri Keuangan akibat tekanan politik. Saat itu pasar saham bereaksi negatif dan melakukan aksi jual besar-besaran.

Jokowi yang cenderung lebih disimbolkan mewakili masyarakat kecil, ternyata juga mampu memberikan harapan baru di pasar saham yang  sering dianggap menyimbolkan kapitalisme nan rakus. Jokowi juga ternyata mampu memompa semangat baru ke dunia yang dianggap hanya diisi oleh orang-orang berduit yang tidak punya sense of humanity.

Investor asing juga memberikan reaksi gairah yang luar biasa. Suntikan uang panas dari luar negeri seketika masuk ke dalam sistem pasar saham Indonesia dalam jumlah bersih IDR 7,5 triliun. Dan itu terjadi hanya dalam beberapa jam perdagangan saja.

“Investor tidak membutuhkan hasil Pilpres lagi. Dengan deklarasi Jokowi sebagai calon presiden saja, pasar sudah bisa menebak hasil Pilpres nanti. Bisa dipastikan dia akan menang dengan mudah.” Demikian komentar dari seorang teman sesama portfolio manager. Ini berarti price in ke market akan dilakukan sekarang hingga sebelum Pilpres.

Dalam catatan saya, belum ada sambutan semeriah ini untuk kandidat presiden sepanjang perjalanan bursa saham Indonesia. Sebagai perbandingan, tengok saja ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden tahun 1999. Tepat tanggal 20 Oktober, bursa dibuka pada angka 583. Ketika akhirnya Gus Dur terpilih mengalahkan Megawati, bursa langsung anjlok ke angka 569. Memang terbilang wajar untuk saat itu, mengingat adanya potensi terjadinya keributan akibat pendukung Megawati yang tidak terima dengan kekalahan jagoannya.

Ketika SBY terpilih menjadi Presiden untuk pertama kalinya, tepatnya pada 21 September 2004,  IHSG hanya naik tipis sekitar 0,18%. Sementara tahun 2009 ketika SBY terpilih untuk kedua kalinya, sehari setelah Pilpres, IHSG ditutup hanya menguat tipis 0,03%.

Pesona Jokowi memang luar biasa membius publik saat ini. Jika ada yang berani mengkritik Jokowi secara terbuka, dipastikan orang itu akan berhadapan dengan publik yang sudah terlanjur mencintai Jokowi. Bahkan kaum rasionalis yang saya kenal dengan pandangan-pandangan sinis dan skeptisnya selama ini, seolah-olah kehilangan akal sehat ketika sudah berbicara tentang Jokowi. Tak tampak lagi argumen-argumen yang didasarkan pada fakta. Yang ada hanyalah romantisme ala Eropa abad ke 18. Profil Jokowi memang sudah sukses besar melambung digoreng oleh media massa.

Overreaction pasar saham

Salah satu konsekuensi dari manusia ketika terjun ke pasar modal adalah adanya unsur emosi dari pelaku yang terlibat. Overreaction adalah salah satu fenomena yang menjadi bukti keterlibatan unsur emosional itu. Dalam konsep efisiensi pasar, informasi yang baru muncul tidak akan terefleksi secara tepat dan sempurna ke pasar, akan selalu ada apresiasi yang berlebihan atau kurang terhadap harga sekuritas. Sebelum kemudian pelaku melakukan penyesuain dengan fundamental atau nilai informasi itu.

Berhubungan dengan hipotesis efisiensi pasar, bisa saya katakan bahwa informasi seperti pencapresan Jokowi ini bukanlah suatu tren jangka panjang dalam bursa saham. Pada intinya, semua akan kembali ke fundamental. Namun memang tak ada salahnya jika kita memanfaatkan euforia jangka pendek ini.

Saya kira, pasar juga harus melakukan eksplorasi yang lebih jauh lagi untuk mengetahui bagaimana sudut pandang dan kebijakan ekonomi yang akan dijalankan oleh Jokowi nantinya. Perlu dilihat lebih jauh lagi apakah Jokowi sebenarnya pro pasar atau tidak. Dan yang paling penting, salah satu masalah mendasar dalam ekonomi Indonesia adalah persoalan subsidi BBM. Waktu akan menguji nantinya apakah Jokowi hanya mementingkan populisme semata atau rela mengorbankan popularitas demi kepentingan jangka panjang bangsa. Semoga Jokowi tidak akan mengecewakan publik kemudian.

Monday, September 9, 2013

Overconfidence Effect in Economy

"Our country was too confident. We feel highly idolized by foreign countries. When in fact, they (foreigners) reluctant to engage with Indonesia ". This quote I heard about five years ago from my professor in class. He is one of the respected economic technocrats in this country.

The statement was said by Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. He was Minister for Economic Affairs in 2001-2004. An era when Indonesia's economy is still full of problems, due to the debt pile of monetary crisis in 1998. No wonder he was dealing with a lot of foreign creditors who lend money to Indonesia, such as the IMF, CGI, and the Paris Club.

Actually at that time I did not agree with his words. I know that Indonesia is a big country with abundant natural resources. There is no reason to say that foreigners do not need Indonesia. But once I saw what happened later with Indonesia, I feel what he said is true.

The phenomenon of excessive self-confidence is actually explained in behavioral economics (finance) theory. This is one example of bias in human life called the overconfidence effect. It is a confidence level that exceeds the actual situation based on rationality. This behavioral theory is likely to ignore the basic assumption in economics that people are rational in economic decisions.

An employee tends to rate themselves higher, thus demanding a bigger paycheck. Bubble in the stock markets and commodity prices also triggered by excessive optimism. Every economic crisis is also often triggered by this phenomenon.

It also happens with Indonesian after investment grade rating. We believe Indonesia is a new idol in the world. Let’s call it the investor darling. The world praised Indonesia's economic strength from the influence of American and European crisis. Indonesia had felt above the wind. As a result, the government, consciously or not, made many painful policies about foreign. 

Politicians also inflaming the spirit of anti-foreign. Just for a simple reason: public loves anti-foreign issue. Politicians who seem anti-foreign will have greater opportunities to be chosen by innocent people in the next election.

Look at how we really ignore the warning that has been shown by economic indicators since Q2 of this year. Look at how we ignore the warning from S & P when revised Indonesia's outlook from positive to stable.

The results we can see today. Our economy is depressed when they do the small attacks by carried out the money from Indonesia.

I always say that we should build Indonesia with a clear perspective, not only on a narrow nationalism. Compartmentalization between foreign and local is very unfair. I have seen nationalism is nothing more than jargon is echoed by some local businessmen to take advantage personally or groups. After all, foreign companies are also more devoted than local companies when paying tax.

The foreign direct investment has also slowed. Although it was predicted to be the engine of economic growth, reduce dependence on domestic consumption. Protectionist policies in the name of nationalism to be the cause.

And now, they turn around suddenly. They scream negative. Some even equate this crisis to the 1998. This view is excessive in my opinion, and the government also became panicked. Too late, already ailing economy, though not yet severe.

Overconfidence effect is very dangerous. The companies will undertake an aggressive expansion financed by high leverage. Just look at now how the coal-based company covers the debt due to coal prices plummeted. It all started from their belief that coal prices will remain on sky level.

Stock investors will ignore fundamental factor. Supporting arguments later created as a justification in buying decision. Counter arguments will be ignored consciously or not. Every analyst will shout: "Buy!"

A retail investor will feel great in the stock market because he can make a profitable investment. In fact that is because the market in a bullish trend. So we can say: whatever you buy, you will get profit! So in a bullish trend, will emerge analyst or person who claims expert with the recommendation that is fairly decent. However, they will usually disappear when the market in a bearish trend. Sure, the crisis is a test for the skill.

What can we learn from this phenomenon? Be careful in making decisions.  Let us not be deceived by the illusion of confidence. Because when confidence is excessive, then the risk will begin to be ignored.

Anyway, I still want to share a little story from Prof.Dorodjatun. I remember that at that time he also criticized the mental and lifestyle of our government officials. When Indonesian negotiating team want to reschedule debt payments to Paris Club, they came up with luxury car and hotel. "We came to their country asking for mercy to delay of debt payments, but we did not show that Indonesia in some trouble!", He said. Pathetic!

Tuesday, August 27, 2013

Krisis dan Kesempatan

Koran Kontan, 27 Agustus 2013
Arman Boy Manullang

Jika ingin mencari kambing hitam atas krisis pasar keuangan saat ini, salahkan saja Ben Bernanke. Sinyal tapering off atas formula moneter ajaib “quantitative easing” yang diucapkannya memicu aksi sell off di pasar negara berkembang. Apa daya, nilai Rupiah ikut terseret pelarian modal itu. Semua tak lepas dari membaiknya data perekonomian Amerika Serikat.
Mundur sedikit ke belakang, pada 29 April 2013, ketika IHSG sukses menjebol angka psikologis 5.000, saya menulis artikel berjudul "Shifting Dana Global" di koran ini. Ketika itu, gejala pelarian modal asing yang sudah mulai terlihat di pasar. Resiko di pasar ekuitas pun meningkat dan pengalihan aset ke instrumen USD turut mengancam nilai Rupiah.
Kemudian tanggal 23 Mei 2013, ketika IHSG sudah menyentuh angka 5200, saya kembali menulis tentang hal ini dengan nada yang lebih keras dengan judul "Anomali Pasar Saham dan Bahaya Bubble". Intinya saat itu saya melihat pasar saham tidak bergerak sejalan dengan fundamental Indonesia.
Saat itu mayoritas media dan laporan analis mengatakan IHSG masih akan terus melaju dan jauh dari kata koreksi. Bahkan beberapa pihak dan forum mengecam saya karena menyebarkan sentimen negatif ke bursa.
Apa yang kita takutkan itu akhirnya terjadi saat ini. Inflasi yang meninggi, berakhirnya era suku bunga rendah, defisit neraca yang melebar akibat kinerja ekspor yang anjlok, dan melemahnya nilai tukar Rupiah, sudah terjadi saat ini. Dan masih mungkin makin memburuk lagi.
Posisi IHSG bahkan sudah melorot 20% dari posisi tertinggi 5.200 tahun ini. Nilai tukar rupiah juga sempat menembus 11 ribu pada kurs jual. Bank Sentral tidak mampu melakukan intervensi terus menerus karena beresiko menggerus cadangan devisa yang ada.
Kinerja penanaman modal juga sudah melambat. Padahal sempat digadang-gadang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengurangi ketergantungan kepada konsumsi domestik. Kebijakan proteksionisme atas nama nasionalisme menjadi penyebabnya. Ini juga tak lepas dari tekanan populisme politisi dan perebutan simpati publik lugu.
Dan lihat saja sekarang, semua tiba-tiba balik badan berteriak negatif menimbulkan kepanikan di pasar. Bahkan ada yang menyamakan krisis ini dengan krisis 1998. Ini pandangan yang berlebihan menurut saya. Dan pemerintah menjadi panik. Terlambat sudah, ekonomi sudah terlanjur sakit, meskipun belum parah.
Adalah aneh mengelola ekonomi negara sebesar Indonesia tanpa formula yang jelas. Pencegahan krisis adalah sesuatu yang langka di negeri ini: sakit dulu baru diobati. Padahal revisi outlook atas rating Indonesia oleh S & P dari positif menjadi stabil pada Mei kemarin seharusnya sudah lebih dari sekedar peringatan. Namun itu ternyata tidak cukup. Mungkin sudah bawaan mental bekas jajahan, ditampar dulu baru sadar.
Kehilangan status investment grade menjadi ancaman berikutnya. Memang Bank Indonesia memberikan sinyal positif bahwa defisit neraca transaksi berjalan bakal  menyempit pada paruh kedua tahun ini, seiring dengan pemulihan kondisi ekonomi global dan penyesuaian ekonomi domestik. Namun itu tidak mengurangi kekhawatiran kita akan ancaman di depan.

Kesempatan dalam krisis

Okelah, semuanya sudah terjadi, tak ada gunanya meratapi portofolio yang memerah hingga dua digit. Lantas apa yang bisa kita pelajari?
Pepatah klasik bahwa selalu ada kesempatan dalam setiap krisis sangat berguna saat ini. Walaupun memang terdengar klise. Banyak cerita sukses yang berawal dari krisis. Jika boleh saya menggunakan bahasa bombastis, banyak orang kaya mendadak ketika krisis usai. Itu hanya masalah waktu dan kesabaran.
Krisis adalah kesempatan mendapatkan aset bagus dengan harga murah. Mulai sekarang, silakan lirik saham-saham bagus incaran anda.
Jauhi dulu saham dari emiten yang sangat bergantung pada impor, termasuk emiten yang memiliki hutang besar dalam USD. Ingat di awal tahun ini, banyak emiten yang berlomba mencari pendanaan global dengan menerbitkan surat hutang dalam USD. Depresiasi Rupiah yang susah diprediksi sejauh mana sangat mengancam emiten seperti ini.
Musuh kita yang terutama memang adalah diri sendiri. Kita sering meninggakan akal sehat dan optimis berlebihan ketika dalam posisi senang (market bullish). Kita hanya terbiasa melakukan rasionalisasi dan justifikasi atas yg sudah terjadi tanpa melihat gejala yang sudah kasat mata.
Semoga situasi sekarang ini dapat kita jadikan pembelajaran hidup. Mereka yang tidak tahu sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya, demikian kata Edmund Burke.

Thursday, July 4, 2013

Ilusi Objektivitas


Satu ketika saya bertanya kepada seorang teman: “Seberapa yakinkah kamu dengan agama yang kamu anut?”. Dia menjawab: “100 persen!”. Ketika saya melakukan eksplorasi terhadap keyakinannya itu, ternyata yang saya dapatkan tak lebih dari keyakinan tanpa dasar yang jelas.
Okelah, itu adalah hak setiap orang. Saya tidak tertarik membahas tentang keyakinan. Debat kusir tentang ini tidak akan pernah berakhir. Saya hanya tertarik mendalami perilaku manusia.
Ini adalah contoh salah satu bias dalam hidup manusia yang disebut dengan over-confidence effect. Suatu keyakinan yang melebihi akurasi sebenarnya atau rasio. Bagaimana dapat dikatakan yakin 100% sementara bertemu dengan Tuhan, Surga, dan Neraka saja tidak pernah. Semua gambarannya hanya didapat dari kitab suci.
Fenomena ini banyak kita jumpai dalam kehidupan. Seorang karyawan cenderung menilai dirinya lebih tinggi sehingga menuntut gaji yang lebih besar lagi. Bubble dalam pasar saham dan harga komoditas juga dipicu optimisme yang berlebihan.
Itu pula yang terjadi dengan perekonomian Indonesia pasca mendapat rating investment grade. Kita menganggap Indonesia sebagai idola baru di dunia. Akibatnya, pemerintah, sadar atau tidak, banyak membuat kebijakan yang menyakitkan asing. Politisi juga semakin mengobarkan semangat anti asing. Simple saja alasannya: masyarakat sangat menyukai isu anti asing ini. Politisi yang terkesan anti asing, akan punya peluang lebih besar untuk dipilih masyarakat lugu dalam pemilihan nanti.
Hasilnya bisa kita lihat sekarang. Perekonomian kita mengalami batuk-batuk ketika asing melakukan serangan kecil dengan membawa modal keluar dari Indonesia. Saya selalu mengatakan bahwa kita harus membangun indonesia dengan akal sehat, bukan hanya berdasar nasionalisme yang sempit.
Ketika berkutat dalam melakukan due-diligence terhadap suatu bisnis atau penilaian terhadap seorang personal tokoh, pemikiran skeptis ini banyak membantu saya dalam memformulasikan resiko. Setidaknya itulah yang saya peroleh dalam pengalaman yang masih pendek. Saya harus mengetahui siapa dan latar belakang seseorang untuk dapat memahami perannya dalam suatu masalah dan mengukur potensi resiko. Saya harus melakukan eksplorasi ke hal yang paling fundamental.
Kita ilustrasikan misalnya dalam suatu pengadilan. Seorang pengacara bertugas membela terdakwa sehingga wajar jika membela habis-habisan dengan mengesampingkan kesalahan. Sementara seorang jaksa penuntut akan menuntut habis-habisan si terdakwa dengan mengesampingkan hal positif. Semuanya itu tak terlepas dari peran  masing-masing. Jadi, mari melupakan objektivitas. Itu hanya bahasa retorika dan omong kosong.
Namun begitupun, bukan berarti kita boleh memelihara faktor subjektif. Konsep objektivitas atau bebas nilai mungkin memang hanya suatu ilusi. Tetapi mungkin ilusi yang bermanfaat. Objektivitas semu itu harus berusaha dicapai. Agar kita tidak tumbuh menjadi seorang manusia picik dengan wawasan dan perspektif yang sempit satu arah. Walaupun sempurnanya mungkin hanya utopis.
Semakin saya mendalami pemikiran-pemikiran orang hebat, semakin saya merasa bahwa konsep bebas nilai hanyalah satu ilusi. Tak lebih dari kemunafikan para pemikir itu. Menutupi subjektivitas dengan mengatakan diri bebas nilai.
Mungkin subjektivitas sudah merupakan sifat manusia. Bagaimanapun melawan itu, manusia tidak akan bisa terlepas. Masing-masing manusia berangkat dari satu domain yang mempengaruhi perkembangan pemikirannya. Tidak akan pernah ada dua manusia yang identik. Ini pula yang membuat penilaian terhadap sesuatu adalah wajar berbeda. Artinya objektivitas setiap orang adalah berbeda.
Sebab itu, dalam melakukan penilaian terhadap satu hal, manusia sangat tergantung dengan konsensus atau kesepakatan universal.  Orang yang berhasil menyelaraskan diri dengan konsensus, disebut oleh masyarakat sebagai manusia normal.
Mungkin agama dan berbagai dongengnya adalah salah satu ilusi terbesar manusia. Mungkin menurut saya. Dan jangan lupa, saya juga berangkat dari skeptimisme terhadap agama. Saya tidak akan pernah mampu menilai agama dengan objektif.
Oke mulai sekarang saya tidak akan berani mengatakan diri sebagai makhluk yang rasional. Sebab banyak perilaku saya yang sebenarnya juga tidak masuk akal. Rokok yang jelas-jelas merugikan masih saya konsumsi hingga sekarang.
Bahkan kalau anda adalah orang yang teliti dan memiliki kemampuan menafsir bahasa yang baik, argumen-argumen yang saya berikan diatas sudah menggambarkan semuanya. Anda akan banyak menemukan kontradiksi. Tulisan ini adalah gambaran dari apa yang saya tulis ini. Tulisan ini tak lebih dari dari penilain subjektif yang saya kemas dengan seolah-olah objektif.
Sekarang saya coba memberikan pertanyaan kepada anda. Berapakah negara anggota organisasi pengekspor minyak (OPEC)?
a) antara 10-15 negara
b) antara 15-20 negara
c) diatas 20 negara
Coba masing-masing ketiga jawaban diatas anda beri persentase keyakinan sebagai jawaban yang benar. Kemudian coba anda cek disini jawaban yang benar. Apakah anda mengalami juga fenomena over-confidence? Berhati-hatilah dalam membuat keputusan. Saat percaya diri sudah berlebih, saat itulah resiko akan mulai diabaikan.