Pages

Ads 468x60px

Wednesday, May 8, 2013

Mind Without Fear


Hari ini adalah hari kelahiran pujangga besar asal India Rabrindanath Tagore (1861 - 1941), seorang filsuf yang berhasil membawa pemikiran dan budaya Asia sejajar dengan karya-karya Barat sehingga mendapatkan hadiah nobel bidang sastra tahun 1913.
Sekitar 9 tahun lalu pertama kali saya mengenal salah satu karya Rabrindanath Tagore, yaitu Mind Without Fear.  Karya ini banyak mempengaruhi jalan hidup yang saya pilih hingga saat ini. Menginspirasi saya tentang arti kemerdekaan dan kebebasan bagi seorang individu. Tagore tidak mendefenisikan Kemerdekaan sebagai sesuatu yang besar dan kuat, tetapi hanya sesederhana kebebasan pikiran dari rasa takut.
Karya ini menginspirasi kita untuk berani mengambil langkah yang berbeda dengan umum, mengejar passion, melepaskan diri dari label dan stigma, melepaskan diri dari belenggu pemikiran yang kerap membuat manusia menjadi individu yang kaku dan picik.

Mind Without Fear - Rabrindanath Tagore

Where the mind is without fear and the head is held high
Where knowledge is free
Where the world has not been broken up into fragments
By narrow domestic walls
Where words come out from the depth of truth
Where tireless striving stretches its arms towards perfection
Where the clear stream of reason has not lost its way
Into the dreary desert sand of dead habit
Where the mind is led forward by thee
Into ever-widening thought and action
Into that heaven of freedom,my Father, let my country awake.

Monday, April 29, 2013

Shifting Dana Global

Oleh: Arman Boy Manullang*
Dimuat di Koran Kontan, 29 April 2013

The Economic Times, 24 April 2013 melaporkan bahwa dana asing global telah keluar dari India sepanjang kuartal pertama 2013 mencapai USD 1,2 miliar. Penjualan dilakukan oleh pengelola dana global, seperti HSBC, Fidelity, dan JPMorgan. Dana yang keluar melalui pelepasan aset-aset domestik ini diakibatkan oleh peningkatan ketidakstabilan politik di negara itu. 
Indonesia pun menghadapi ancaman seperti ini, besar potensi aliran dana akan keluar dari dalam negeri dalam waktu dekat.
Aliran dana masuk Indonesia
Indonesia telah muncul menjadi investor darling bagi para investor global dalam beberapa tahun terakhir. Rating investment grade  akhirnya sukses diraih. Optimisme terhadap ekonomi Indonesia didukung oleh limpahan sumber daya alam, tenaga kerja yang relatif murah, dan pertumbuhan masyarakat kelas menengah. Peningkatan stabilitas politik dan implementasi reformasi yang sukses menjadi faktor yang memicu stabilitas makro. Seluruh dunia pun melirik Indonesia.
Stabilitas makro dalam negeri terlihat dari kebijakan suku bunga acuan yang diterapkan setahun belakangan. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di angka 5,75% selama 15 kali, terhitung sejak Februari 2012.  Suku bunga yang stabil ini tentunya dipicu oleh inflasi yang terkendali.
Kebijakan suku bunga rendah di kawasan negara maju membawa berkah bagi negara berkembang seperti Indonesia. Para pemilik dana dari negara maju itu mencari tempat memarkirkan dana yang mereka miliki. Dana pun mengalir ke negara-negara berkembang akibat tingginya potensi imbal hasil pasar ekuitas maupun Surat Utang Negara.
Optimisme akhirnya mewabah di kalangan pelaku pasar, memicu peningkatan harga aset dan surat berharga. IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, bahkan berhasil menembus level psikologis 5000. Ini terutama juga didorong oleh kinerja emiten yang sangat baik sepanjang 2012 sehingga berlomba-lomba membagikan dividen kepada pemegang saham.
Namun kekhawatiran mulai timbul saat ini di tengah euforia dan optimisme. Revisi pertumbuhan ekonomi global sudah dilakukan oleh lembaga dana moneter internasional (IMF) dari 3,5% menjadi 3,2%, meskipun banyak kalangan memperkirakan tidak berpengaruh terhadap ekpektasi pertumbuhan ekonomi domestik.
Saya rasa itu adalah pandangan yang optimis berlebihan, sebab integrasi perekonomian domestik ke global pasti membawa akibat, baik dalam skala besar maupun kecil. Ancaman inflasi juga sebenarnya sudah ada di depan, seiring dengan implementasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. Tahun politik yang akan menyebabkan peningkatan uang yang beredar di masyarakat juga turut menyumbang ancaman inflasi.
Angka defisit neraca perdagangan juga terus membesar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit sebesar USD 327 juta pada Februari, melebar signifikan dibanding USD 75 juta di bulan Januari. Emiten di BEI yang berlomba ekspansi dengan pendanaan surat utang juga menyimpan potensi masalah. Belanja modal mayoritas dibiayai oleh efek hutang. Ini harus diwaspadai karena rawan default ketika terjadi kekacauan ekonomi. Ditambah lagi harga komoditas yang tak kunjung bangkit.
Dan ingat, ini adalah tahun politik. Adalah sulit bagi pemerintah membuat keputusan ketika terjadi benturan antara kalkulasi politik dengan logika ekonomi.
Saya khawatir, kalkulasi politik akan menang terhadap logika ekonomi. Dengan kata lain, pemerintah akan lebih memilih untuk mengorbankan stabilitas jangka panjang demi popularitas politik jangka pendek menjelang 2014. Penempatan Hatta Rajasa mengisi pos Menteri Keuangan menggeser Agus Martowardojo bisa dijadikan sebagai bukti.
Melihat kondisi Indonesia yang sudah menghangat menyambut pemilu 2014, investor global dipastikan tidak akan berani bertaruh dengan situasi ini. Konsekuensi yang paling logis adalah membawa pulang dana tersebut ke negaranya, atau memindahkan ke dalam instrumen tradisional yang didominasi oleh USD. Alokasi aset ke dalam instrumen emas juga sangat memungkinkan, mengingat harga sudah terkoreksi cukup dalam sehingga membuka peluang untuk membeli pada harga rendah.
Memanfaatkan tren aliran dana
Di Indonesia, aliran dana asing memang masih terus mengalir hingga sekarang. Namun patut diwaspadai bahwa aliran dana itu meningkat ke pasar surat utang Negara (SUN), sedangkan ke pasar ekuitas adalah negatif.
Dari sini terlihat sudah mulai ada shifting dana dana dari instrument ekuitas ke fixed income. Berarti sudah ada peningkatan resiko di pasar ekuitas Indonesia saat ini.
Melawan pergerakan arus dana besar tersebut adalah mustahil. Yang bisa dilakukan hanya mampu mengikuti di belakang mereka, atau setidaknya mencoba menebak apa yang akan mereka lakukan. Shifting investasi ke instrumen emas sudah bisa dilakukan saat ini. Jika khawatir harga emas masih akan turun, pembelian secara bertahap bisa dilakukan dengan menggunakan metode dollar cost averaging.
Memang tidak ada yang bisa memastikan Indonesia akan mengalami kejadian seperti India. Namun tidak ada juga yang bisa menjamin Indonesia tidak akan mengalami kejadian seperti itu. Orang bijak berkata: “Apa yang naik pasti akan turun.” Bukankah kita sudah cukup menikmati kenaikan selama ini? Mari bersiap dengan segala kemungkinan.

*Penulis adalah seorang pengamat pasar modal yang pernah bekerja di perusahaan sekuritas dan konsultan investasi asing di Indonesia.




Friday, March 22, 2013

Ancaman Bubble Properti Indonesia : How High Can You Go?



Jika malam hari tiba, kebanyakan unit-unit di apartemen itu gelap gulita tanpa lampu penerangan, pertanda tidak sedang ditempati atau tidak ada aktivitas kehidupan di dalamnya. Pengamatan saya sekilas menunjukkan bahwa tidak sampai setengah dari unit apartemen tersebut yang berpenghuni. Namun, unit yang tidak berpenghuni itu bukan berarti tidak ada pemilik. Fakta ini kontras dengan penjualan unit properti, termasuk apartemen, yang selalu kebanjiran pembeli. Pengembang memberikan harga setinggi apapun, selalu habis dilahap calon pembeli. 
Apartemen-apartemen yang kosong atau tidak ada penyewa itu menunjukkan bahwa sebenarnya permintaan yang tinggi itu tidak bersumber dari kebutuhan yang tinggi. Atau bisa jadi juga sebenarnya sisi supply dan demand sama-sama tinggi, namun masalah pricing yang tidak cocok membuat kedua sisi itu tidak match dalam pasar. Artinya penawaran memberikan harga yang terlalu tinggi, sementara permintaan hanya mampu pada harga yang lebih rendah. Jadi transaksi tidak akan pernah terjadi antara kedua pihak. Sangat disayangkan mengingat masih banyaknya masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal layak huni.
Ada kecenderungan pasar properti hanya dijadikan ajang spekulasi untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga yang berlipat-lipat. Properti sudah beralih dari fungsi dasarnya sebagai hunian atau perkantoran menjadi salah satu instrumen investasi atau asset investment class, tak ada ubahnya dengan simpanan deposito di bank. Atau tidak ada ubahnya dengan anda membeli emas batangan dan menyimpannya dalam deposit box.
Itu mungkin merupakan gambaran keadaan pasar properti di kawasan Jabodetabek saat ini. Tanah berkembang menjadi komoditas yang sangat mahal. Harga tanah dan properti naik secara masif, bahkan ada yang mencapai 100% dalam setahun. Harga tanah IDR 5 juta per meter di kawasan pinggiran Depok bukan lah sesuatu mengherankan. Konsultan properti Knight Frank mencatat, rata-rata harga properti residensial mewah di Jakarta pada 2012 adalah USD 3.746 (IDR 35 juta) per meter.
Di salah satu kompleks perumahan di Grand Depok City, rumah satu lantai dengan luas bangunan 38 m2 dan luas tanah 90 m2 ditawarkan seharga IDR582 juta. Dan tragisnya rumah ukuran 38 ini sebenarnya masih terbilang kecil dan sederhana. Kompleks perumahan ini pun sebenarnya bukan lokasi yang strategis untuk kawasan Depok.
Dalam skema kredit yang ditawarkan, jika pembeli membayar DP 10%, maka cicilan bulanan untuk 3 tahun adalah IDR 15,9 juta. Saya rasa harga ini sudah tidak waras, tidak banyak warga Jabodetabek yang beruntung mampu memiliki penghasilan sebesar itu dalam sebulan. Dan Itu adalah akibat ulah pengembang yang menggoreng untuk melambungkan harga setinggi mungkin. Tanah yang mungkin dulu mereka beli hanya 50 ribu per meter2, sekarang disulap menjadi 5 juta. Fantastis!
Sebagai konsekuensi logis, kinerja keuangan perusahaan properti juga ikut meroket sepanjang tahun 2012. Terimakasih kepada rating investment grade Indonesia yang membuat mereka mudah mendapatkan dana dari pasar modal dan memperluas akses ke pasar keuangan global. Mayoritas perusahaan properti mencetak kenaikan laba bersih diatas 50% untuk tahun 2012. Sebagai contoh, Modernland Realty membukukan kenaikan laba bersih 252%, Bumi Serpong Damai (BSDE) naik 53%, Alam Sutra Realty naik 101,7%.
Data Statistik Perbankan Indonesia yang dikeluarkan oleh BI juga menunjukkan kredit yang dialirkan ke sektor ini juga meningkat tajam. Angka Kredit Pemilikan Rumah (KPR) naik 33,1% per Desember 2012 dibandingkan Agustus 2011, Kredit Pemilikan Ruko naik 53,8%, dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) naik 112,8%. Peningkatan yang luar biasa, terutama untuk KPA.
Harga saham emiten properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjadi idola akibat kenaikan harga yang fantastis. Jika dibandingkan sejak awal 2012 hingga saat ini, saham Lippo Karawaci naik 92,3%, Bumi Serpong Damai naik 88,4%, Summarecon naik 103%, Ciputra Development naik 109%, Alam Sutra Realty naik 152%, Ciputra Surya 224%. Ini adalah return spektakuler yang puluhan kali diatas deposito.
Dalam ilmu behavioral finance, ada istilah Herding, diturunkan dari kebiasaan membawa, menggiring, atau memindahkan sekelompok hewan peliharaan secara bersama-sama dalam satu kelompok yang dituntun oleh seorang gembala. Perilaku sekumpulan hewan itu cenderung seragam dan searah, tidak akan ada yang menyimpang dari kawanan. Perilaku herding ini merupakan naluri hewan untuk bertahan hidup menghindari pemangsa.
Teori dalam istilah Herding ini mungkin sedang terjadi dalam pasar properti di kawasan Jabodetabek saat ini. Perusahaan properti berlomba-lomba ekspansi membanjiri suplai kawasan hunian dan perkantoran, dengan mengandalkan kekuatan marketing. Titik perputaran uang ada di sektor itu, maka yang lain pun mengikuti masuk ke pusat perputaran uang.
Para marketer juga terus terpacu memasarkan unit-unit demi mengejar fee, mengingat kecilnya pendapatan yang mereka peroleh jika hanya mengandalkan gaji tetap.
Porsi belanja modal (capital expenditure) perusahaan properti untuk ekspansi dan membeli landbank baru juga terus meningkat signifikan. Dan belanja modal ini juga mayoritas dibiayai oleh efek hutang, baik pinjaman perbankan maupun bentuk obligasi. Dan ini juga adalah hal yang harus diwaspadai karena rawan dengan default ketika kekacauan ekonomi mulai terjadi.
Bank dunia sudah memperingatkan akan potensi bubble ini dalam laporan Indonesia Economic Quarterly yang dirilis 18 Maret 2013. Indikatornya adalah terjadi kenaikan harga dan kredit properti yang signifikan sepanjang tahun 2012, terutama di sektor apartemen, ritel, perkantoran, serta kawasan industri di Jakarta. Bank Dunia mencatat, harga jual apartemen di Jakarta sampai akhir 2012 sudah naik 43% dibanding akhir 2011. Pertumbuhan kredit kepemilikan apartemen (KPA) juga melejit 84% di periode yang sama. Begitu pula kenaikan harga jual perkantoran yang mencapai 43% di periode serupa. Harga sewa kawasan industri juga menanjak hingga 22% di periode yang sama.
Di sisi lain, Indonesia Property Watch (IPW) menilai pernyataan Bank Dunia soal ancaman bubble pasar properti Indonesia terlalu berlebihan. Mereka berargumen bahwa pasar properti memang naik signifikan selama tiga tahun terakhir, namun yang terjadi bukan bubble, melainkan overvalued, yaitu selisih harga sebesar 15%-20% antara pasar primer dan pasar sekunder. Ini saya maklumi sebab lembaga IPW ini tidaklah cukup kredibel untuk didengarkan.
Analis saham sektor properti yang saya tanyakan juga menyatakan bahwa sektor ini belum bubble dan masih memberikan rekomendasi buy. Saya perhatikan tidak banyak lagi analis di Indonesia yang berangkat dari pemikiran skeptis. Ahh...memang profesi mereka sudah lama kehilangan kredibilitas kok di mata saya. Saya sudah tidak pernah memedulikan opini mereka. Saya tahu mereka hanya memikirkan berapa banyak gaji dan bonus yang akan mereka bawa pulang, tidak ubahnya seperti middle class workers yang lain.
Opini yang berkembang selama ini bahwa tanah dan properti adalah aset yang harganya pasti naik. Kita boleh setuju, namun fakta di Amerika sudah mematahkan pendapat ini ketika terjadi krisis subprime mortgage 2007. Ini mungkin memang kejadian black swan, tetapi siapa yang menjamin hal itu tidak mungkin terjadi di Indonesia? Toh di era globalisasi dan dunia yang semakin kompleks ini, peluang terjadinya penyimpangan dari konsensus dan model konvensional semakin besar.
Saya memang belum berani 100% mengatakan bahwa sektor properti Indonesia sudah bubble. Saya hanya menyesalkan ekspansi agresif yang berlebihan dan tidak bertemunya harga permintaan dan penawaran dalam pasar properti akibat pengembang yang menggoreng harga. Saya juga belum mengukur secara kuantitatif apakah fenomena over-investing sudah terjadi di sektor ini. 
Tetapi orang bijak berkata: Apa yang naik pasti akan turun, dan itu hanya menunggu waktu. Untuk mengacaukan sekawanan hewan dalam fenomena herding itu, hanya butuh satu ekor yang melenceng dari jalur, atau hanya butuh hujan deras yang tiba-tiba turun. Mari kita tunggu.

Monday, March 11, 2013

Agama dan Masyarakat Kosmopolitan


Agama mungkin adalah hal yang tidak relevan lagi dalam konsep masyarakat kosmopolitan — ide bahwa seluruh umat manusia adalah bagian dari komunitas tunggal. Sebab agama, melalui ajaran dan doktrin, cenderung mengarahkan manusia untuk berpikiran sempit, tidak bebas nilai, dan yang pada akhirnya akan menimbulkan konflik sesama. Ide masyarakat kosmopolitan ini mungkin menjadi dasar berpikir semua filsafat etika.
Secara dimensi ruang atau jarak, peradaban manusia saat ini semakin mendekati konsep kosmopolit yang sempurna. Hampir tidak ada lagi batas komunikasi antara dua ujung dunia, dan semuanya tentu dengan biaya yang relatif murah. Walaupun memang jarak secara fisik belum mampu didekatkan oleh teknologi saat ini — terkendala oleh unsur dan partikel kehidupan yang belum bisa diciptakan secara artifisial. Namun argumen ilmiah terakhir sudah mengatakan bahwa alat tele-transporter bukanlah hal yang mustahil. Stephen Hawkins juga sebenarnya sudah menemukan argumen dimana ketiadaan menjadi ada secara tiba-tiba, berbeda dengan mesin waktu yang memang mustahil dan susah dijangkau rasio, setidaknya untuk saat ini.
Jauh mundur ke belakang, di sekitar abad ke-2 Masehi di era berkembangnya kepercayaan Hellenistic, Hierocles sebenarnya sudah meletakkan pondasi dasar untuk masyarakat kosmopolit,  dikenal dengan Hierocles circles model. Hierocles mengatakan manusia berada dalam satu lingkaran konsentris yang terdiri atas beberapa lapis. Lapisan ini dimulai dari diri sendiri sebagai pusat ego hingga lingkaran paling jauh alam semesta, baik dari ilmu astronomi maupun filsafat.
"Each one of us is as it were encompassed by many circles… the first and closest circle is the one which a person has drawn as though around a centre, his own mind… The outermost circle, which encompasses all the rest, is that of the whole human race… the task [is]… to keep zealously transferring those from the enclosing circles into the enclosed ones."
  (Hierocles in Long and Sedley 1987:57)  

Menurut teori ini, individu yang berada dalam masyarakat kosmopolitan harus menarik individu yang berada di lingkaran luar untuk mendekat ke lingkaran dalamnya sendiri, untuk menciptakan hubungan kuat secara emosional yang seharusnya akan mereduksi konflik.
Sekarang masing-masing kita sudah dapat mengukur diri ada di posisi dimana. Apakah kita masih berada di lingkaran paling dalam? Ataukah sudah berpindah ke lapis paling luar? Seharusnya manusia akan terus berpindah seiring bertambahnya umur dan meluasnya pergaulan. Menyedihkan jika manusia hanya berada di lingkaran pertama, kedua, atau ketiga.
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah: Dapatkah seorang individu menyelesaikan seluruh proses ini dalam kehidupan? Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Dan apa yang akan terjadi jika seluruh proses sudah selesai? Mungkin akan tercipta masyarakat Utopia menurut gambaran Thomas More.
Hal ini memang mungkin tidak akan pernah tercapai. Kehidupan manusia penuh dengan distorsi dan mispersepsi. Itu akibat keterbatasan manusia yang disebut dengan Scotoma: the mind sees what it chooses to see.
Saat ini, ada orang atau sekelompok yang sudah mengklaim diri sebagai warga dunia tanpa batas (universalist). Ini mungkin adalah mencontek ide dari Diogenes of Sinope (4SM) yang dikenal dengan praktek hidup yang sangat ekstrim, menyindir para filsuf etika yang hidup mapan saat itu. Satu waktu orang bertanya ketika dia berkeliaran dengan telanjang bulat di jalan raya Athena seperti binatang: “Darimanakah kamu berasal?”. Dia menjawab: “Saya adalah warga dunia”.
Namun teori ini juga memiiki kelemahan, sebab tidak semua individu memiliki lingkaran konsentris yang lengkap dan sempurna. Ada individu yang tidak memiliki salah satu, atau dua, atau lebih dari lapisan lingkaran konsentris. Namun disisi lain, setiap manusia akan terus mencari keberadaan lingkaran itu untuk mengisi kekosongan ruang. Akibatnya, individu itu akan menciptakan lingkaran konsentris buatan, hasil manipulasi dan rasionalisasi diri sendiri atau kelompok. Dan sayangnya, lingkaran artifisial ini tidak akan sempurna, kecenderungannya dibuat hanya berdasarkan kepentingan (ekonomi?), atau berdasarkan hitung-hitungan cost benefit.
Individu yang berada dalam lingkaran konsentris buatan inilah yang rentan menjadi perusak masyarakat kosmopolitan, sebab ada ruang kosong dalam kehidupannya yang kelihatan seperti berisi dengan lengkap(maaf kalau saya generalisir).
Konsep utopis versi Hierocles ini mungkin tercapai ketika seluruh manusia benar-benar melebur menjadi satu, tanpa agama dan fanatisme. Namun jika kehidupan tanpa agama, saya juga khawatir manusia hanya akan mengulang mundur sejarah jauh ke belakang. Tidak! Untuk ituah gunanya kita belajar sejarah, agar kita tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan nenek moyang kita. Atau mungkin itu akan ditemukan dalam praktek konsep universal-single religion. Atau ini mungkin hanya oxymoron buntu yang tidak akan mungkin dicapai.
Ah..ntah lah, saya tidak tahu jawabannya. Maafkanlah keterbatasan berpikir saya. Yang penting kita sepanjang kehidupan terus berusaha memperbesar ruang toleransi, membuang fanatisme, menghindari mispersepsi terhadap orang lain, memperkaya perspektif dengan menggali kehidupan. Itupun berarti manusia hanya berjalan terus untuk menjauh dari sumber ketakutan, bukan untuk mencapai apa yang diinginkan. Ah, hidup yang sia-sia. Tidakkah menyedihkan jika manusia hanya hidup untuk berlari dari ketakutan?.

Tuesday, February 19, 2013

Bakrie VS Rothschild II: Hary Tanoe “The Saviour” of Bakrie?



Lin Che Wei pernah mengatakan bahwa Grup Bakrie memiliki 9 nyawa sehingga sangat susah untuk ambruk. Beliau menganalogikan seperti kucing yang baru kehilangan lima nyawa, jadi masih ada sisa 4 nyawa lagi. Bukti dari perkataan analis keuangan yang sangat saya kagumi di Indonesia ini mungkin sudah ada di depan mata saat ini.
Sangat layak juga Nirwan Bakrie sebagai front-man bisnis keluarga ini mendapat julukan “the man with a thousand-ways out”.
Sengketa untuk menjadi pengendali cadangan batubara terbesar di Indonesia antara dua dinasti legendaris, Bakrie dan Rothschild, saat ini telah memasuki babak baru. Telah terjadi banyak manuver  yang kadang tidak terprediksi antara kedua belah pihak. Menarik memang mengikuti ceritanya, mengingat background Bakrie sebagai politisi di negeri ini. Sedikit banyak, setiap ceritanya pasti terkait dengan politik.
Dan ceritanya semakin menarik lagi, sebab Si Raja Media yang saat ini sedang belajar politik, Hary Tanoe, juga sudah ikut terseret ke dalam pusaran, mengikuti jejak Samin Tan (Borneo) dan Rosan Roeslani (Bukit Mutiara, Recapital).
Akhir tahun 2012, Bakrie telah mengajukan proposal cerai dengan BUMI Plc. Skema transaksinya adalah Bakrie melepas 23,8% kepemilikan mereka di BUMI Plc, dan BUMI Plc kemudian melepas 10,8% kepemilikan di BUMI Resources kepada keluarga Bakrie. Sisa 18,9% kepemilikan BUMI Plc atas BUMI Resources akan dibeli keluarga Bakrie sebesar USD 278 juta secara tunai.
Dan tampaknya manajemen BUMI Plc lebih memihak kepada proposal yang diajukan Bakrie, dan itu membuat keluarga Rothschild berang. Rothschild menuntut diadakannya RUPS dengan agenda penggantian manajemen yang direncanakan pada 21 Februari 2012, 2 hari lagi dari sekarang.
Voting yang akan dilakukan dalam RUPS nanti jelas susah diprediksi. Secara kepemilikan, pemegang saham di Indonesia Bakrie CS (Bakrie, Borneo, dan Recapital) memang mencapai 57%. Namun UK Takeover Plan mengatakan bahwa mereka bertiga adalah pihak acting in concert atau berada pada satu pihak, sehingga ditetapkan bahwa hak suara dari kelompok ini hanya sebesar 29,9% (sebesar kepemilikan Bakrie dan Samin Tan melalui Long Haul Holdings).
Nathaniel Rothschild sebelumnya memiliki saham dengan kepemilikan suara sebesar 11,9%, namun dia mengklaim telah meningkatkan kepemilikan menjadi 18,2% melalui secondary market di London Stocks Exchange.
Kepemilikan suara minoritas yang lain diklaim lebih memihak kepada Rothschild. The Telegraph Minggu 17 Februari 2013 melaporkan bahwa Rothschild dan St James’ Master Fund sudah menguasai 25,2% hak suara. Schroder Investment Ltd, yang mengendalikan 4,2% hak suara juga ada di pihak Rothschild.
Jika kepemilikan minoritas ini digabungkan dengan kepemilikan suara Rothschild, persaingan antara Bakrie dan Rothschild akan sangat ketat dalam voting (Bakrie CS 29,9% VS Rothschild CS 29,4%).
Jadi untuk bisa menjadi pemenang pada saat voting, kedua pihak masih sangat bergantung pada kepemilikan minoritas yang lain, seperti Abu Dhabi Investment Council dan Black Rock Capital.
Nat Rothschild sudah sangat yakin akan memenangkan voting. Nat berkata kepada Sunday Times: “We are going to win by a convincing margin. It’s almost arithmetically impossible for the other side (Bakrie CS) to win.”
Pada acara Economic Challenge di Metro TV minggu lalu, Samin Tan muncul bersama Menteri ESDM Jero Wacik membahas tentang isu ketahanan energi, dengan mengambil studi kasus sangketa memperebutkan BUMI Resources. Terlihat pihak Bakrie sedang mencoba mengajak pemerintah dan publik Indonesia untuk membantu mereka.
Ah ini sudah tidak waras, sangketa murni bisnis kok dihubung-hubungkan dengan isu nasionalisme dan ketahanan energi. Propaganda media mereka terlalu kasar. Lagian saya tahu persis Samin Tan itu bukan orang yang biasa tampil di media, jadi bisa kita pastikan kalau dia memiliki tujuan yang sangat strategis sehingga mau tampil live di tv.
Bakrie tidak pernah menyerah dan terus melakukan manuver, dan akhirnya mereka melakukan gerilya yang sangat mengejutkan.
Kemarin, 18 Februari 2013, tepat 3 hari sebelum pelaksanaan RUPS, Recapital yang sebelumnya dianggap acting in concert dengan Bakrie, melepas 13,4% kepemilikannya kepada tiga pihak, salah seorang adalah Hary Tanoesodibjo. Recapital melepas 3 juta lembar saham kepada Flaming Luck Investments Ltd (vehicle milik Hary Tanoe); Avenue Luxemburg SARL 13,67 juta saham; dan Argyle Street Management Limited 7,536 juta lembar saham.
UK Takeover Plan juga sudah memutuskan bahwa ketiga pihak ini tidak acting in concert dan memiliki hak suara sebesar kepemilikan pada RUPS 21 Februari 2013.
Jelas ini adalah manuver untuk menguntungkan Bakrie pada saat RUPS nanti. Jika pemilik hak suara baru ini digabung dengan Bakrie, maka hak suara meningkat menjadi 43,3%. Ini lebih dari cukup untuk memenangkan Bakrie. Manuver sederhana yang sangat luar biasa cerdik.
“Transaksi ini sangat tidak transparan, Recapital tidak mendisclose semua informasi, termasuk closing transaksi di harga berapa, Saya mencurigai transaksi ini hanya repo antara Bakrie dengan Hary Tanoe,” Seorang rekan saya manajer investasi berkata.
Kecurigaan ini memang sangat wajar jika melihat track-record keluarga Bakrie yang sering menggunakan fasilitas repo.
Namun jika dilihat dari persentase, kepemilikan Hary Tanoe tersebut hanya sebesar 1,65%. Bagaimana mungkin bisa kita sebut HT bertujuan untuk membantu menyelamatkan Bakrie?
“Ah, lo kira Bakrie CS itu orang bego!” Seorang teman investigator bisnis berkomentar sambil tertawa. “Hary Tanoe sengaja didisain memberikan hak suara yang 1,65% kepada Rothschild untuk mencegah kecurigaan dan kemungkinan investigasi oleh regulator”.
“Jangan terlalu polos teman, ini adalah bisnis hidup mati dan pride, bahkan membunuh orang pun terkadang harus tega, gimana caranya kaya kalo hati selalu dibawa bersama kepala,” seorang teman menasihati saya. “Kamu kan sudah lebih dari 5 tahun akrab dengan dunia seperti ini”.
Aha, Saya akhirnya menemukan benang merah dari semua kejadian ini. Itu mungkin menjadi alasan kenapa HT mengulur deklarasi masuk Hanura hingga hari Minggu kemarin. Dan jika HT betul didisain untuk memberikan hak suara melawan Bakrie, ini pararel dengan keputusan HT tanggal 17 Februari 2013 untuk memasuki Partai Hanura, bukan Partai Golkar.
“Udah deh, HT udah bantu Bakrie lawan Rothshild, VIVA (saham media induk TV One, ANTV, dan Vivanews) akan jatuh  ke HT,” seorang teman jurnalis senior berspekulasi.
Ini mungkin akan menjadi kode untuk kejadian besar selanjutnya, sekaligus menjadi titik terang rumor penjualan VIVA kepada Grup MNC yang dimiliki Hary Tanoe.
Seorang teman ‘aliran kitab suci’ menyerang saya dengan argumen kosong: “Boy, kenapa sih terlalu pesimis memandang transaksi bisnis ini, Hary Tanoe itu kan orang yang sangat relijius, jadi tidak mungkin dia seperti itu”.
Saya jawab dengan tertawa: “Iya kawan, profesi saya dibayar untuk selalu memandang manusia dari view skeptis, saya selalu berangkat dari asumsi awal bahwa setiap transaksi yang melibatkan uang itu sarat dengan intrik. Dan sejauh ini, asumsi saya itu selalu terbukti. Dan kebetulan pula profesi seperti saya selalu dibayar berlipat lebih banyak daripada profesi kamu.”
Saya bukan seperti analis ‘pinter’ lulusan FEUI dan MBA US yang selalu merekomendasikan buy, tak peduli seberapa hancur isi keuangan dan manajemen perusahaan itu. Saya bukan seperti profesional ‘bersih’ yang membuang hati nurani di tong sampah demi segepok Dolar. Saya bukan pula kaum Utopis yang selalu memandang kehidupan begitu indah dan ideal.
Ah...itupun saya mungkin tak lebih dari hanya sekedar menjalankan panggilan profesi. Kita memang di dunia tidak lebih dari hanya menjalankan peran saja. Manusia hanyalah aktor dari cerita kehidupan masing-masing, kita hanya akan diukur dari kemampuan dramatisasi.